Pemuda Rapuh
Seorang pemuda kini
telah kering karna rindu. Setiap malam ia bangum meyentuh air, membentangkan
sajadah, sujud, berdiri, rukuk, sampai tak kuasa menahan sudut-sudut yang
berair. Matanya berkaca-kaca. Badannya terguncang hebat. Sampai sudut-sudut itu
menganak sungai.
Dirinya
menjadi tersandar pada Allah yang Maha
Penyayang. Hatinya berselimut hangat memanjatkan doa-doa. Setelah itu pemuda
mengangkat kedua tangannya ke kiblat. Kepalanya turun karena embun mata selalu
menetes menghantam bumi.
Lelaki muda
bercerita pada Tuhannya,
“ Duhai Allah yang
mengkarunia setiap hati dengan kerinduan. Rinduku pada kekasihMu telah tergali
dalam. Aku rindu padanya, siang malam ku bersholawat padanya, detik menit ku
merasa dekat dengannya.
Duhai Tuhanku,
Engkau adalah pencipta Semesta Alam. Dan Engkau ciptakan Muhammad RosulMu
sebagai rahmat untuk siapa saja dimuka bumi.
Duhai Allah Tuhanku
yang rahmatnya teramat luas. Luaskan pandanganku untuk bisa melihat
baginda Nabi. Hatiku terbentur
berkali-kali ingin menatap wajahnya , mata bulatnya yang hitam, senyuman
wajahnya yang memberikan siapa saja
ketenagan..
Aku ingin memandangnya Duhai Robbku... Karuniai aku bermimpi
tentangnya “
Pemuda yang tertunduk semakin tenggelam kepalanya menuju
dada. Wajahnya basah, air mata beningnya terus menetes, tangannya terus
mengadah.
Sampai akhirnya Rosulullah datang duduk disamping pemuda itu.
Mata Rosulullah pula basah sambil memohon pada Allah
“ Duhai Allah, Tuhanku yang Maha Pengasih lagi Maha Penyang,
karunia ia bermimpi tentangku... setiap malam ia tak lekas lelah bersimpuh.
Menit dan detiknya bersholawat padaku.
Duhai Allah, karunia dia. Akupun merindui dirinya lebih yang
ia rindu padaku”
Rosulullah terus memanjatkan doa secara bersamaan, saling
membalas cerita pada Allah meskipun pemuda tidak tahu bahwa Rosulullah hadir disampingnya.
Pemuda rapuh itu berkata,
“ Duhai Rosulullah,
hadirlah meski ku tak dapat melihatmu. Aku benar-benar merindu meski sekalipun
ku tak pernah melihat wajahmu”
Rosulullah menjawab ,
“ Duhai Pemuda Ummatku, begitu pula aku merindu. Aku memohon pada-Nya agar kita dapat bertemu, menemani sholat malammu, dan kita bercerita tentang rindu-rindu dalam tidurmu”
“ Duhai Pemuda Ummatku, begitu pula aku merindu. Aku memohon pada-Nya agar kita dapat bertemu, menemani sholat malammu, dan kita bercerita tentang rindu-rindu dalam tidurmu”
Amalina Yuda Permata
4 Ramadhan 1940H - 09 Mei 2019
Mukalla, Hadromout, Rep of Yemen

